Oleh: Agus M. Irkham
Ada yang silap. Berbilang komunitas baca mengkampanyekan pentingnya kegiatan membaca (buku) tapi tidak disertai pula dengan pengaksentuasian budaya menulis. Bahkan di kalangan para pegiatnya sekalipun, keprigelan menulis kerap menjadi nomor sepatu—dalam prioritas penguasaan keterampilan yang harus dimiliki. Tak terkecuali para pengelola Taman Bacaan Masyarakat (TBM). Mereka asyik mengumpulkan dan meminjamkan buku, mengajak khalayak membaca buku, menggelar beragam acara, tapi giliran diminta menuliskan beberan aktivitas literasi itu mereka tertatih-tatih. Jarak otak dan tangan laksana ratusan kilometer. Meski satu tulisan, lama sekali dirampungkan.



